Entradas populares

“Sampaikan kepadanya, Allah juga mencintainya,”


Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Cinta.. lagi-lagi bahasan kali ini tentang cinta. Diluar sana, di blog, di fb, di twitter bahasan tentang cinta mungkin sudah bejibun. Dari mulai cerita cintanya Adam-Hawa sampai yang orang bule punya tuh, cerita cintanya Romeo and juliet. Tapi untuk kali ini saya mau mencoba membahas tentang cinta yang tak akan pernah menyakiti dan tersakiti, cinta yang sempurna.
So, kalian pasti udah tau dong apa yang mau saya bahas?? *banyak nanya nih author! Orang dari judulnya aja udah ketauan.*hehe... afwan.. J*
Yup, bener banget. Cinta kepada Allah. Dzat Yang Maha Sempurna.
Kalau saya tanya, mau gak kalian dapat cintanya Allah? Pasti pada jawab mau. Tapi kalau saya tanya, apa saja yang sudah kalian lakukan untuk meraih cintaNya? Apa hanya sekedar sholat 5 waktu, puasa Ramadhan dan membayar zakat ? yakinkah kalian kalau ibadah yang kalian lakukan selama ini diterima Allah ? wallahualam.
Sebenarnya mudah namun sulit untuk meraih cintaNya. Seperti hadist dibawah ini :
Allah SWT berfirman “Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas.” (HR. Bukhari)
 Allah tak pernah butuh cinta makhluknya, kita lah yang membutuhkan cinta Allah. Jika kita sedikit saja ikhlas mencintai Allah, maka Allah memberikan banyak cintanya. Sudah terbukti bukan ? betapa cintanya Allah kepada kita makhluknya yang hina. Jangan bangga kalau kalian para ikhwan(cowok) bisa merayu akhwat(cewek). Dan jangan bangga kalau kalian para akhwat punya kecantikan fisik untuk menarik ikhwan. Untuk meraih cintaNya, Allah pun butuh rayuan dan kecantikan. Tapi tunggu dulu.. bukan rayuan atau kecantikan yang dimiliki ikhwan-akhwat seperti yang saya maksud diatas. Rayuannya adalah Doa. Dan kecantikannya adalah Taqwa. Beruntunglah ia yang sudah memiliki semua itu.
Mudah bukan? perlu diingat teman-teman, syaitan punya 1000 cara agar kita lupa dan lalai terhadap itu semua, membuat hal itu menjadi sesuatu yang sulit untuk dicapai. But, you have to remember it : kita punya 1100 cara buat ngalahin syaitan! fighting !!! :D

Ada kisah indah tentang seseorang yang cintanya dibalas Allah SWT. Ini kisahnya :

Ini adalah cerita Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, pada suatu waktu, Rasulullah pernah memerintahkan kepada salah  seorang sahabatnya untuk memimpin sebuah pasukan ke sebuah daerah yang jauh dari Madinah.
Pada waktu salat subuh, sahabat ini menjadi imam bagi para sahabat yang ikut bersamanya. Tidak seperti lazimya shalat berjamaah, setelah Al-Fatihah, sahabat ini membaca surat al-ikhlas (Qulhuwallahu ahad), di dua rakaat berturut-turut.
Para sahabat yang menjadi makmum saat itu menganggap kejadian ini sebagi hal yang aneh. Dan sekembalinya ke Madinah, merkeka pun menanyakannya kepada rasulullah. “Tanyakan kenapa dia melakukan itu.” Tanya Rasulullah mengembalikan pertanyaan. Lalu, para sahabat kembali kepada laki-laki itu. “Aku mengulangi suratAl-Ikhlas dalam setiap raka’at karena aku sungguh mencintainya, surat Al-Ikhlas menyebutkan sifat-sifat  Allah Yang Maha Rahman,” jawab laki-laki itu.
Setelah mendengar hal itu, Rasulullah mengatakan “Sampaikan kepada si fulan, sebab dia mencintai surat itu, maka Allah pun mencintainya.”

Subhanallah... benar-benar indah cerita di atas. But... bukan berarti setiap salat kita Cuma baca surah Al-Ikhlas ya *itu karena cinta apa karena cuma hapal surah Al-ikhlas??hayoo..* surah Al-ikhlas adalah surah yang menyamai sepertiga Al-Qur’an. Surah ini dibaca pada shalat witir, pada raka’at kedua dari shalat sunah setelah tawaf,shalat qabliyah subuh,shalat ba’diyah maghrib,pada wirid pagi dan sore, dan wirid sebelum tidur.  Seperti cerita diatas, ada seseorang yang masuk surga karena begitu cintanya dengan surah ini. Surah yang artinya “memurnikan keesaan Allah” benar-benar menegaskan kalau "Allahu ahad, Allahus shamad" (Allah Maha Esa, Allah tempat bergantung)  dan menolak segala bentuk penyukutuan terhadapNya. Teman-teman yang insyaAllah diberkahi hidupnya, berusahalah untuk ingat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam surah Al-ikhlas dalam doa, sholat dan wirid-wirid kalian. Karena dengannya dapat mendekatkan diri kita dengan Allah SWT. Sekali lagi saya tekankan kalau Allah tak pernah butuh cinta kita, tapi kita lah yang membutuhkan cintaNya. Namun dalam meraih cinta perlu bukti. Bukti itu adalah Doa, ketaqwaan dan keteguhan kita dalam menghadapi cobaan dariNya.

Alhamdulillah..
Hope you like it.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. J


Berkas:Surat Al-Ikhlas - Maghribi script.jpg

Akhirnya "dia" datang

Tak tahu apa yang harus aku katakan lagi tentang ini
Mulut ini bahkan tak sanggup menggambarkan kebahagiaan hati ni
Mungkin terdengar berlebihan
Tapi aku tak peduli
Terimakasih Cintaku
Telah kau buat aku bertemu dengannya lagi
Setelah lama ku menunggu
Akhirnya “dia” datang
Saat “dia” datang
Ada kebahagian dan juga kesedihan
Bahagianya tentu karena “dia” adalah cintanya Sang Pemilik Cinta
Dan yang dimuliakan Kekasih Allah
Dan beruntunglah ia yang bertemu dengannya
Kesedihannya adalah
Karena aku tau jika ada pertemuan maka ada perpisahan

Selamat datang Ramadhan...
Bulan yang ditunggu bejuta-juta umat muslim di dunia
Bukan untuk menunggu hadiah lebaran
Bukan pula untuk menunggu nikmatnya buka puasa
Tapi hanya untuk mendapat ridhoNya di bulan penuh berkah ini
Meskipun itu sulit
Karna hanya orang-orang terpilihlah yang mendapatkan itu

Ya Allah..
Aku mohon ridhoMu dibulan suci ini
Jadikan Ramadhan ini bulan penghapusan dosaku
Bulan yang membuatku lebih mencintaiMu
Bukan bulan untuk sekedar menahan haus dan lapar
Tapi tak ada makna
Terima kasih ya Allah
Telah Kau sampaikan umurku di Ramadhan tahun ini
Untuk meraih cintaMu
Dan kembali fitri di hadapanMu

♥♥ Untuk Cinta Yang Belum Halal ♥♥

Bismillaahirrahmaanirrahii​m


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Dikala cinta menyapa....

Dunia begitu indah berwarna...

Bunga-bunga di hati bersemi... 

Harum mewangi bagai kasturi...

Walaupun cinta tak berwujud...

Namun ia menguasai hidup..

♥♥ 

Tatkala hati tersentuh cinta...

Walaupun cinta itu tak berwarna nyata...

Tapi ia bernuansa biru di kalbu ...

Wahai Sang Maha Pencipta cinta...

Indahnya cinta adalah karunia-Mu....

Ajari kami hamba-hamba-Mu rasa bersyukur atas segala karunia-Mu....

Ajari kami bahasa cinta-Mu yang tulus...

Ajari kami memaknai cinta-Mu yang damai dan penuh kasih agar bersemi di sepanjang musim tanpa pupus...


Ya Allah... Teguhkanlah hati kami untuk mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu di atas segala cinta...

Ya Allah karuniakanlah kepada kami cinta hanya mengharapkan ridho-Mu

♥♥ 


Untukmu cinta.......

Yang hadir di hati tanpa sebab,tanpa syarat,tak terbatas oleh ruang,waktu dan jarak yang membentang....


Andai benar cinta itu karena Allah biarkanlah Allah Sang Pemberi Cinta yang mengatur segalanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.


Jika kita mencintai seseorang belajarlah untuk lebih mencintai Sang Pemberi Cinta.


Hati ini begitu mudah terbolak-balik maka serahkanlah rasa yang belum halal itu padaNya, titipkanlah padaNya karena hanya Allah sebaik-baik penjaga. 


Dikala hati resah memendam rindu....


Hiasi diri dengan taqwa, perbanyak shalat, dzikir, tilawah, shalawat, istighfar dan berbaik sangka, semoga Allah memberi jalan yang terbaik menurutNya..aamiin.
( Anggun Loviestetika )

Mahligai Amalku Yang Ternoda

Assalamualaikum...
the first posting nih. walaupun masih copas dari note seseorang di fb. but, i hope you like it. so, lets read! :)

Mahligai Amalku Yang Ternoda

الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيراً


Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata:

Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ‘Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah.’”[1]

Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata:

 ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ‘Apa ini’, lalu dijawab: Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah.’”

Berkata Ibnu ‘Aisyah:

 ”Ayahku berkata kepadaku: ‘Saya mendengar penduduk Madinah berkata: Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain’’”[2]

***

Begitu syahdunya hati yang raganya telah memperaktekkan ibadah-ibadah yang memang Allah syariatkan baik pada level wajib maupun mandub/sunnah. Si pemilik hati akan merasakan ketenangan dan kesejukan yang tiada terkira dan memang sulit pula bagi kami untuk membahasakannya.

Tak hanya itu, terpolesi pula dengan kualitas ikhlas yang bersemayam di hati. Ada semacam rasa yang begitu spesial ketika hanya Allah dan diri kita yang mengetahui amal-amal yang kita persembahkan untuk Allah, Rabb alam semesta.

Lihatlah kembali petikan kisah di atas, Ali bin Husain telah mengajarkan kita rasa yang amat spesial itu. Di balik gulitanya malam, dipikulnya sekarung roti hingga membekas warna hitam di bagian pundaknya. Bekas hitam ini bukan terlihat saat ia masih hidup namun ketika tubuhnya harus dimandikan setelah ruhnya tak lagi dikandung badan.

Penduduk Madinah, saat itu, tak tahu siapakah gerangan yang begitu rutin di malam hari bersedakah tepung terigu yang merupakan bahan makanan mereka. Hanya setelah kematian Ali bin Husain lah pertanyaan itu terjawab dengan baik.
Subhanallah. Di manakah sosok Ali bin Husain di zaman ini?

>>Di Status Facebook Mereka Melapor

Wahai rekan-rekan yang mulia..

Di dunia maya, apalagi di status Facebook tak sedikit saudara-saudara kita yang memilih sebuah keputusan yaitu mengabarkan kepada penduduk dunia maya tentang ibadah yang telah mereka lakukan. Kami dapati mereka meng-updates statusnya dengan redaksi yang beragam.

“hmmm. Buka puasa dimana ya?”

“Alhamdulillah udah bisa tahajjud lagi sambil menangis.”

“Lagi macet di jalan. Telat deh buka puasa.”

“Sedang nyari al-Qur’an di lemari. Mau baca Al-Baqarah ntar tengah malam. Wkwkwk.”

Begitu  mudahnya sebuah amal ibadah digembor-gembor, dipublikasikan, dipamerkan, diperlihatkan, diperdengarkan, de-el-el. Pujiankah yang hendak mereka raih?

Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnul Jauzy:

“Alangkah sedikitnya orang yang beramal ikhlas karena Allah, sebab kebanyakan manusia begitu senang menampakkan ibadahnya.”[3]

Begitu pula apa yang dikatakan Abu Ishaq al-Fazari:

“Sesungguhnya ada di antara manusia orang yang menyukai pujian kepada dirinya padahal dirinya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk.”[4] 


>>Ketika Ibadah Sebagai Jembatan Menuju Ketenaran

Sekiranya yang diinginkan adalah “like” atau ancungan jempol, nama baik, ketenaran, dan sejenisnya maka inilah musibah itu: “Mencari nilai duniawi dengan sebuah ibadah.”

Janganlah ibadah dan agama dipertaruhkan demi sekerat duniawi, apalagi hanya dengan mengharap“like” sebagai ancungan jempol. Siapa yang membarter amalan akhirat untuk secuil saja kepentingan pribadi dan dunia maka tentulah siksa akan bermunculan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيمة.

“Barang siapa mempelajari ilmu yang seyogyanya hanya untuk mengharapkan wajah Allah, dan pula Ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai tujuan duniawi maka tak akan ia mencium bau Surga di hari kiamat.”[5]

Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

“Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah (1)seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, 'Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?'. Dia menjawab, 'Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.'

Allah berkata, 'Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.' Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian, (2)ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur'an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, 'Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?'. Di menjawab, 'Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur'an untuk-Mu.'

Allah mengatakan, 'Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur'an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur'an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.' Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya, (3)seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, 'Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?'. Dia menjawab, 'Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.'

Allah berkata, 'Dusta kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.”[6] 

Tak hanya itu wahai sahabat, Allah pula akan mempermalukannya kelak di hari kiamat di hadapan seluruh manusia.

Dari Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

ما من عبد يقوم في الدنيا مقام سمعة ورياء إلا سمع الله به على رءوس الخلائق يوم القيمة

"Tidaklah seorang hamba berbuat riya’ dan sum’ah di dunia, melainkan Allah akan menyiarkan aibnya di hadapan para makhluk di hari kiamat.”[7]

Kembali membidik status-status yang bertebaran di Facebook, terlihat begitu jauhnya adab kita dengan adab mereka dalam menjaga amal. Mereka, salafush shalih itu, setelah menunaikan amalnya, begitu berharap dengan sepenuh hati agar ibadah mereka benar-benar diterima dan juga khawatir kalau-kalau amalnya tidak diterima.

Konon diantara mereka berkata:

اللهم إنا نسألك العمل الصلح وحفظه.

“Ya Allah, kepada-Mu, kami memohon amal shalih dan (agar Engkau) menjaganya.[8]


>>Kisah Mereka Telah Terpotret Sejarah

Mari kita biarkan Muhammad bin A’yun berkisah,

”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar.

Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”.

Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok”[9]

Di lain kisah, seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata,

“Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”[10]

>>Seuntai Ungkapan Cinta

Rekan-rekan yang kami hormati dan muliakan.
Begitu banyak langkah-langkah syaitan yang mesti diwaspadai. Syaitan menebar modus yang beragam namun dengan satu tujuan: menodai keikhlasan. Dan status Facebook adalah salah satu perangkap manis yang mereka sediakan.
Tak perlu bagi kami dan anda untuk mengabarkan kepada penduduk dunia maya (dan dunia nyata) tentang amal-amal yang telah kita persembahkan kepada Allah azza wajalla. Biarkan saja amal-amal tersebut tersimpan rapi dan apik dalam catatan/tabungan ghaib sang malaikat.

Bisyr Ibnul Harits berkata:

“Janganlah engkau beramal supaya dikenang. Sembunyikanlah kebaikanmu sebagaiman engkau menyembunyikan kejelekanmu.”[11]

Seperti yang anda ketahui, hidayah seluruhnya ada di tangan Allah maka jadikanlah do’a sebagai jembatan/wasilah agar ikhlas itu mampu terperagakan dengan baik oleh hati. Sungguh, Allah begitu berkuasa untuk membolak-balikkan keadaan hati manusia.

Berharaplah dengan penuh kekhawatiran karena bisa jadi amal kita tertolak walaupun telah menumpuk setinggi gunung. Bahkan, bisa jadi itu menjadi penyebab Allah menyiksa kita sebagaimana hadits-hadits yang telah kami bawakan.

Tak akan kita masuk surga atau merasakan nikmat kubur hanya dengan pujian mereka yang menyemu. Pula, tak akan kita disiksa di kubur atau neraka karena omongan mereka yang tak tahu keadaan kita. Pujian Allah lah yang kita butuhkan dan celaan-Nya lah yang kita takuti.

*** 



Lihatlah kembali petikan kisah di atas, Ali bin Husain telah mengajarkan kita rasa yang amat special itu. Di balik gulitanya malam, dipikulnya sekarung roti hingga membekas warna hitam di bagian pundaknya. Bekas hitam ini bukan terlihat saat ia masih hidup namun ketika tubuhnya harus dimandikan setelah ruhnya tak lagi dikandung badan.

Penduduk madinah, saat itu, tak tahu siapakah gerangan yang begitu rutin di malam hari bersedakah tepung terigu yang merupakan bahan makanan mereka. Hanya setelah kematian Ali bin Husain lah pertanyaan itu terjawab dengan baik.

نسأل الله علما نفعا. اللهم اخعل عملنا كله صالحا  واجعله لوجهك خالصا. بارك الله إلينا و إليكم ولجميع المسلمين. سبحنك اللهم وبحمدك أشهد ألا إله إلا انت أستعفرك وأتوب إليك


Share dari Note : Abdullah Akiera Van As-samawiey,
https://www.facebook.com/notes/abdullah-akiera-van-as-samawiey/mahligai-amalku-yang-ternoda-catatan-akhir-pekan-part-8/

Mataram, Selesai ditulis satu jam menjelang adzan Maghrib.
19 Rajab 1432 H (21 Juni 2011)

_________
End Notes:

[1] Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908). Dari Ebook Ikhlas dan Bahaya Riya oleh Ustadz Firanda

[2] Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9. Dari Ebook Ikhlas dan Bahaya Riya oleh Ustadz Firanda

[3] Shaidul khaatiir hal. 251. Dari kitab Khuthuwaatu Ila as-Sa’adah.

[4] Ta'thir al-Anfas, hal. 573. Dari Ebook Ikhlas dan Bahaya Riya oleh Ustadz Firanda

[5] HR ahmad dan Abu Daud. Dari Kitab Afaatul Ilmi.

[6]  HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532]. Dari catatan ustadz Ari Wahyudi.

[7] Al-mundziri mengatakan, “diriwayatkan oleh At-thabrani dengan sanad habsan.” Dishahihkan Syaikh Al-albani. Dari Kitab Afaatul Ilmi

 [8] Dari kitab Khuthuwaatu Ila as-Sa’adah.

[9] (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266). Dari Ebook Ikhlas dan Bahaya Riya oleh Ustadz Firanda

[10] (Kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad). Dari Ebook Ikhlas dan Bahaya Riya oleh Ustadz Firanda

 *S S*

Buscar

 
December Second Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger