“Sampaikan kepadanya, Allah juga mencintainya,”
Akhirnya "dia" datang
♥♥ Untuk Cinta Yang Belum Halal ♥♥
Bismillaahirrahmaanirrahii
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dikala cinta menyapa....
Dunia begitu indah berwarna...
Bunga-bunga di hati bersemi...
Harum mewangi bagai kasturi...
Walaupun cinta tak berwujud...
Namun ia menguasai hidup..
♥♥
Tatkala hati tersentuh cinta...
Walaupun cinta itu tak berwarna nyata...
Tapi ia bernuansa biru di kalbu ...
Wahai Sang Maha Pencipta cinta...
Indahnya cinta adalah karunia-Mu....
Ajari kami hamba-hamba-Mu rasa bersyukur atas segala karunia-Mu....
Ajari kami bahasa cinta-Mu yang tulus...
Ajari kami memaknai cinta-Mu yang damai dan penuh kasih agar bersemi di sepanjang musim tanpa pupus...
Ya Allah... Teguhkanlah hati kami untuk mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu di atas segala cinta...
Ya Allah karuniakanlah kepada kami cinta hanya mengharapkan ridho-Mu
♥♥
Untukmu cinta.......
Yang hadir di hati tanpa sebab,tanpa syarat,tak terbatas oleh ruang,waktu dan jarak yang membentang....
Andai benar cinta itu karena Allah biarkanlah Allah Sang Pemberi Cinta yang mengatur segalanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.
Jika kita mencintai seseorang belajarlah untuk lebih mencintai Sang Pemberi Cinta.
Hati ini begitu mudah terbolak-balik maka serahkanlah rasa yang belum halal itu padaNya, titipkanlah padaNya karena hanya Allah sebaik-baik penjaga.
Dikala hati resah memendam rindu....
Hiasi diri dengan taqwa, perbanyak shalat, dzikir, tilawah, shalawat, istighfar dan berbaik sangka, semoga Allah memberi jalan yang terbaik menurutNya..aamiin.
( Anggun Loviestetika )
Mahligai Amalku Yang Ternoda
Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata:
”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ‘Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah.’”[1]
Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata:
”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ‘Apa ini’, lalu dijawab: ‘Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah.’”
Berkata Ibnu ‘Aisyah:
”Ayahku berkata kepadaku: ‘Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ‘Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain’’”[2]
“Alangkah sedikitnya orang yang beramal ikhlas karena Allah, sebab kebanyakan manusia begitu senang menampakkan ibadahnya.”[3]
“Sesungguhnya ada di antara manusia orang yang menyukai pujian kepada dirinya padahal dirinya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk.”[4]
من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيمة.
“Barang siapa mempelajari ilmu yang seyogyanya hanya untuk mengharapkan wajah Allah, dan pula Ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai tujuan duniawi maka tak akan ia mencium bau Surga di hari kiamat.”[5]
“Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah (1)seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, 'Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?'. Dia menjawab, 'Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.'
Allah berkata, 'Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.' Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian, (2)ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur'an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, 'Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?'. Di menjawab, 'Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur'an untuk-Mu.'
Allah mengatakan, 'Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur'an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur'an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.' Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya, (3)seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, 'Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?'. Dia menjawab, 'Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.'
Allah berkata, 'Dusta kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.”[6]
ما من عبد يقوم في الدنيا مقام سمعة ورياء إلا سمع الله به على رءوس الخلائق يوم القيمة
"Tidaklah seorang hamba berbuat riya’ dan sum’ah di dunia, melainkan Allah akan menyiarkan aibnya di hadapan para makhluk di hari kiamat.”[7]
اللهم إنا نسألك العمل الصلح وحفظه.
“Ya Allah, kepada-Mu, kami memohon amal shalih dan (agar Engkau) menjaganya.[8]
”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar.
Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”.
Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok”[9]
“Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”[10]
“Janganlah engkau beramal supaya dikenang. Sembunyikanlah kebaikanmu sebagaiman engkau menyembunyikan kejelekanmu.”[11]
Lihatlah kembali petikan kisah di atas, Ali bin Husain telah mengajarkan kita rasa yang amat special itu. Di balik gulitanya malam, dipikulnya sekarung roti hingga membekas warna hitam di bagian pundaknya. Bekas hitam ini bukan terlihat saat ia masih hidup namun ketika tubuhnya harus dimandikan setelah ruhnya tak lagi dikandung badan.
Penduduk madinah, saat itu, tak tahu siapakah gerangan yang begitu rutin di malam hari bersedakah tepung terigu yang merupakan bahan makanan mereka. Hanya setelah kematian Ali bin Husain lah pertanyaan itu terjawab dengan baik.


