Kemarin baru saja menonton salah satu film Indonesia yang lagi nge-hits sekarang. PERAHU KERTAS 2. setelah sebelumnya udah nonton perahu kertas 1 dan udah baca novelnya juga, jadi agak penasaran sama film part 2nya ini. Film ini menceritakan tentang kisah percintaan Keenan dan Kugy yang cukup rumit, tentang mimpi dan realitas kehidupan, tentang persahabatan dan tentang pengorbanan.
Karena menonton film ini, jadi inget waktu masa kecil dulu ternyata aku juga sering melakukan hal yang sama seperti kebisaan Kugy. Menulis surat, membuatnya menjadi perahu dan menghanyutkannya, berhubung rumah aku dekat kali atau bahasa kerennya sungai. Hehe.. tapi aku tidak mengirimnya untuk Neptunus seperti Kugy,aku kirim untuk Allah.. atau untuk seseorang yang aku ingin kirimi surat tapi mustahil aku kirim keorangnya langsung atau juga bukan untuk siapa-siapa. hanya untuk memuaskan hati saja. membiarkan setiap kata yang kutulis larut bersama jutaan partikel diair, karena dulu aku terlalu takut untuk memperlihatkan tulisannku ke orang-orang bahkan ke orang tuaku sendiri. aku juga tidak pernah menghanyutkan perahu kertasku ke lautan langsung. karena laut dari rumah cukup jauh.
Terkadang aku menghanyutkan perahu-perahu itu bersama teman-temanku. kami selalu saja berlomba siapa yang perahu kertasnya sukses mendarat di sungai tanpa tenggelam sebelum mengalir, dan aku..... aku lebih banyak “nyungsep”nya. Lebih banyak pendaratan yang gagal daripada yang berhasil.-_- dan saat yang melegakkan dan menyenangkan adalah ketika melihat perahu-perahu kami hanyut dengan aliran sungai dan akhirnya tenggelam...
Tapi kebiasaan ini tidak pernah lagi aku lakukan sampai sekarang. Lupa kapan terakhir melakukannya. Kalian tau kenapa aku berhenti menghanyutkan perahu-perahu kertas itu lagi? Karena waktu itu aku sudah mengerti kalau buang sampah di sungai itu ga boleh, dan yang menyebabkan banjir di Jakarta juga karena buang sampah sembarangan di sungai. Jadi sejak saat itu aku belum pernah lagi menghanyut perahu-perahu kertasku lagi.
Emm.. amanat dari film ini juga cukup bagus, setiap diri kita sebenarnya sudah mempunyai calon istri/suami dari sejak lahir, sekeras apapun kita menghindari orang itu tapi kalau sudah takdir disatukan pasti akan bertemu kembali. dan sekeras apapun kita memepertahankan orang itu kalau takdirnya bukan sama dia pasti gak bakal jadi. salah satu perkataannya pak Wayan di film ini adalah "mencintailah pelan-pelan. agar kalau jatuh tidak terlalu sakit" dan "cinta itu dipilih, bukan memilih". yap! dipilih bukan memilih. kenapa? karena kita makhluk Allah. kita dijodohkan dengan seseorang karena kita dipilih untuk dia dan dia dipilih untuk kita. sejatinya bukan kita yang memilih.. so, apa proses pacaran diperlukan disini? menurut aku tidak. Toh, kita dan seseorang disana sudah dipilih, bukan? bisa dilihat contohnya, kugy sama keenan yang tidak pacaran justru jd suami-istri, sementara pacar-pacar mereka sebelumnya malah gak jadi kan? ikuti saja aliran yang ada, betapapun jauhnya aliran sungai itu akan tetap bermuara ke lautan. jika dalam perjalanannya saja kita sudah menyimpang, apa itu bukan mengkhianati namanya? jangan mengkhianati kalau tidak mau dikhianati.
--sekian, semoga bermanfaat :)--
~Qotrunnada Nafi'ah (SD)~
Karena menonton film ini, jadi inget waktu masa kecil dulu ternyata aku juga sering melakukan hal yang sama seperti kebisaan Kugy. Menulis surat, membuatnya menjadi perahu dan menghanyutkannya, berhubung rumah aku dekat kali atau bahasa kerennya sungai. Hehe.. tapi aku tidak mengirimnya untuk Neptunus seperti Kugy,aku kirim untuk Allah.. atau untuk seseorang yang aku ingin kirimi surat tapi mustahil aku kirim keorangnya langsung atau juga bukan untuk siapa-siapa. hanya untuk memuaskan hati saja. membiarkan setiap kata yang kutulis larut bersama jutaan partikel diair, karena dulu aku terlalu takut untuk memperlihatkan tulisannku ke orang-orang bahkan ke orang tuaku sendiri. aku juga tidak pernah menghanyutkan perahu kertasku ke lautan langsung. karena laut dari rumah cukup jauh.
Terkadang aku menghanyutkan perahu-perahu itu bersama teman-temanku. kami selalu saja berlomba siapa yang perahu kertasnya sukses mendarat di sungai tanpa tenggelam sebelum mengalir, dan aku..... aku lebih banyak “nyungsep”nya. Lebih banyak pendaratan yang gagal daripada yang berhasil.-_- dan saat yang melegakkan dan menyenangkan adalah ketika melihat perahu-perahu kami hanyut dengan aliran sungai dan akhirnya tenggelam...
Tapi kebiasaan ini tidak pernah lagi aku lakukan sampai sekarang. Lupa kapan terakhir melakukannya. Kalian tau kenapa aku berhenti menghanyutkan perahu-perahu kertas itu lagi? Karena waktu itu aku sudah mengerti kalau buang sampah di sungai itu ga boleh, dan yang menyebabkan banjir di Jakarta juga karena buang sampah sembarangan di sungai. Jadi sejak saat itu aku belum pernah lagi menghanyut perahu-perahu kertasku lagi.
Emm.. amanat dari film ini juga cukup bagus, setiap diri kita sebenarnya sudah mempunyai calon istri/suami dari sejak lahir, sekeras apapun kita menghindari orang itu tapi kalau sudah takdir disatukan pasti akan bertemu kembali. dan sekeras apapun kita memepertahankan orang itu kalau takdirnya bukan sama dia pasti gak bakal jadi. salah satu perkataannya pak Wayan di film ini adalah "mencintailah pelan-pelan. agar kalau jatuh tidak terlalu sakit" dan "cinta itu dipilih, bukan memilih". yap! dipilih bukan memilih. kenapa? karena kita makhluk Allah. kita dijodohkan dengan seseorang karena kita dipilih untuk dia dan dia dipilih untuk kita. sejatinya bukan kita yang memilih.. so, apa proses pacaran diperlukan disini? menurut aku tidak. Toh, kita dan seseorang disana sudah dipilih, bukan? bisa dilihat contohnya, kugy sama keenan yang tidak pacaran justru jd suami-istri, sementara pacar-pacar mereka sebelumnya malah gak jadi kan? ikuti saja aliran yang ada, betapapun jauhnya aliran sungai itu akan tetap bermuara ke lautan. jika dalam perjalanannya saja kita sudah menyimpang, apa itu bukan mengkhianati namanya? jangan mengkhianati kalau tidak mau dikhianati.
--sekian, semoga bermanfaat :)--
~Qotrunnada Nafi'ah (SD)~


0 komentar:
Posting Komentar